SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Tengah Melanda Indonesia, Ini 8 Hal yang Perlu Dipahami Soal Wabah Difteri

Rabu, 13 Desember 2017 10:16 by zia92 | 3148 hits
Tengah Melanda Indonesia, Ini 8 Hal yang Perlu Dipahami Soal Wabah Difteri
Image source: Merdeka

DREAMERS.ID - Masyarakat Indonesia saat ini tengah diresahkan dengan Difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae yang kembali mewabah. Melansir CNN, hingga November 2017 lalu, 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.

Kesebelas provinsi itu, yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Jawa Timur disebutkan menempati provinsi paling banyak kasus difteri, diikuti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. 

Kondisi ini mengkhawatirkan karena diduga penyebabnya adalah keengganan orangtua memberikan imunisasi pada anak. Wabah ini terus meningkat jumlahnya hingga ratusan kasus di berbagai daerah. Untuk mengetahui apa dan sejauh mana bahaya wabah difteri, berikut delapan hal seputar penyakit tersebut yang perlu dipahami:

1. Apa itu Difteri

Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan diafteri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae yang mudah sekali menular melalui batuk atau bersin. "Ini karena bakteri tersebut paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi saluran nafas," ujarnya.

Di samping itu, bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Itu yang kemudian menjadi sebab kematian. Difteri bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah, serta remaja.

2. Penyebab

Sebagian besar atau hampir dua pertiga yang terkena difteri karena belum pernah diimunisasi sama sekali, atau belum pernah diimunisasi DPT. Ini tak lain karena imunisasi di luar itu tak bisa cegah difteri. "Sering orangtua kalau ditanya, sudah diimunisasi walaupun tidak bisa menunjukkan itu imunisasi difteri. Mereka kerap membela diri sudah imunisasi lengkap, di sisi lain, ternyata itu imunisasi polio, atau campak, dan DPT satu kali," ujar Soedjatmiko.

Soedjatmiko mengatakan, idealnya adalah sampai umur 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

3. Gejala

Soedjatmiko mengatakan, idealnya adalah sampai umur 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

4. Pengobatan

Jika kemudian didiagnosa difteri, maka seseorang mesti dirawat inap, lalu diberi antibiotik. Yang bahaya kalau kuman tersebut mengeluarkan racun atau toksin yang merusak fungsi jantung dan saraf. Yang terkena difteri harus diisolasi selama dua minggu, dan semua yang di sekitarnya baik itu ibu, nenek, kakak, kerabat lainnya patut diperiksa juga.

Bahkan, Soedjatmiko menambahkan, sebenarnya yang perlu diprioritas imunisasi adalah mereka yang kontak dengan pasien, apakah anggota keluarga, teman sekolah, atau tetangga. Imunisasi untuk cegah difteri ini mesti diulang setiap 10 tahun.

5. Risiko meninggal dunia

Rentang waktu setelah kena diagnosa hingga meninggal dunia beragam. Ada yang 5 hari, ada juga yang satu minggu tergantung derajat keparahan. Semua yang meninggal rata-rata yang tidak diimunisasi atau imunisasi tak lengkap. Faktor lainnya, adalah terlambat dibawa ke RS, otak kurang oksigen meninggal atau kuman mengeluarkan racun sehingga menganggu fungsi jantung.

Oleh karenanya, kata dia, semakin cepat ditangani semakin besar kemungkinan selamat. Begitu diketahui selaput putih-putih di tenggorokan, dan di hidung dibawa ke RS diobati cara benar, umumnya selamat. Kalau terlambat umumnya meninggal atau terpaksa dibolongi lehernya untuk bisa bernafas.

6. ORI atau Outbreak Response Immunization

Pemerintah melaksanakan ORI atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri. Pekan ini, tiga provinsi yang ditengarai kasus difteri paling banyak, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten menjalani program ini secara berkala, pada 11 Desember 2017, 11 Januari dan 11 Juli 2018. Jawa Timur yang juga tinggi kasus difterinya sudah lebih dulu melaksanakan ORI.

7. Bukan wabah baru

Wabah difteri pernah terjadi juga pada 2009. Namun, kini wabah tersebut lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Menurut Soedjatmiko, kemungkinan terjadinya wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tak diimunisasi, dan atau diimunisasi tapi tak lengkap.

8. Menurunnya minat imunisasi 

Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan ada penurunan minat orangtua melakukan imunisasi pada anaknya dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir. Pengaruh media sosial juga dinilainya cukup besar sehingga ketika ada yang anti-vaksin, yang lainnya ikut-ikutan. Menurunnya minat akan imunisasi ini turut menjadi faktor penyebab merebaknya wabah difteri di berbagai provinsi.

(fzh/cnnindonesia)

  • HOT !
    Semakin banyak bocoran dan rumor yang muncul terkait perangkat terbaru Samsung Galaxy S10. Baru baru ini, informasi mengenai harga dan varian smartphone yang disebut membawa pembaruan ini pun bahkan terungkap....
  • HOT !
    Kelebihan lemak pada tubuh sering dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit, seperti kardiovaskular atau diabetes. Namun menurut penelitian terbaru, justru ditemukan adanya hubungan antara tingginya kadar lemak dalam tubuh dengan risiko kanker payudara....
  • HOT !
    Masih lanjutan dari Part 1 sebelumnya, tentang warna dan menu makanan yang ternyata mempengaruhi rasa dari makanan menjadi berbeda. Memang terdengar tidak masuk akal tetapi fakta faktanya membenarkan pernyataan tersebut....

BERITA PILIHAN

FAN FICTION
OF THE WEEK
Writer : meditavs
Cast : Kim Jonghyun,A

BERITA POPULER

 
 
 
^
close(x)