SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Psikolog Sebut PMS Mitos Belaka dan Wanita Hanya Dibohongi Teori

Kamis, 23 November 2017 12:20 by zia92 | 1658 hits
Psikolog Sebut PMS Mitos Belaka dan Wanita Hanya Dibohongi Teori
Image source: Getty Images

DREAMERS.ID - Saat memasuki periode menstruasi, banyak wanita mengeluhkan rasa tidak nyaman pada tubuh, seperti suasana hati yang berubah-ubah atau mood swings, kembung, sakit pada payudara, dan lainnya. Hal ini biasa disebut sebagai premenstrual syndrome atau PMS.

Jika banyak kaum hawa yang percaya bahwa PMS bisa merusak mood hingga membuat aktivitas sehari-hari terganggu, maka lain halnya dengan klaim dari seorang psikolog yang mengatakan bahwa PMS hanyalah mitos belaka.

Melansir The Independent, seorang psikolog wanita bernama Robyn Stein DeLuca yakin bahwa para wanita telah dibohongi buku, majalah, dan komunitas kesehatan soal PMS dan sindromnya yang bisa mengacaukan hari-hari.

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Hormone Myth: How Junk Science, Gender Politics And Lies About PMS Keep Women Down’, DeLuca juga menyebut PMS sebagai bukti bahwa wanita modern kesulitan untuk menaklukkan ritme kehidupan. "Kita menghayati ide ini bahwa tubuh kita bermasalah. Ini lebih seperti wanita itu terlalu terhanyut," katanya.

Ia juga menyalahkan komunitas medis yang memperlakukan tahapan-tahapan normal dalam hidup wanita, seperti kehamilan atau proses melahirkan, seperti suatu penyakit sehingga harus dintervensi. "Hal ini mendorong wanita untuk memikirkan tubuh mereka sebagai instrumen yang menyebabkan rasa sakit. Tapi sebenarnya, mereka hanya terlalu memaksakan diri," ujarnya.

DeLuca memang mengakui bahwa hormon juga bisa menimbulkan gejala yang membuat tubuh tidak nyaman. Namun, dia mengklaim gejala-gejala itu tak begitu parah untuk diatasi. Hanya saja, perempuan menggunakan PMS sebagai alasan untuk beristirahat sejenak dari berbagai tuntutan di sekitar mereka.

Sementara itu, Joyce Harper, profesor kesehatan wanita di UCL tak setuju dengan pendapat DeLuca. "Perubahan hormon memepengaruhi perasaan. Ini bukan mitos," katanya. Ia menjelaskan, sebanyak 95 persen wanita mengalami PMS dan ini bukan hanya soal kewalahan menghadapi hidup. PMS juga dianggap Harper sebagai bentuk perjuangan wanita menghadapi siklus alami dalam hidupnya.

Melansir CNN, ini bukan kali pertama peneliti berspekulasi soal kebenaran PMS. Teori serupa muncul pada 2012 lewat studi dari Gender Medicine.  Peneliti dari Universitas Toronto menemukan, hanya enam dari 41 penelitian membuktikan ada hubungan antara perubahan suasana hati yang drastis dengan masa-masa sebelum menstruasi.

(fzh)

  • HOT !
    Semakin banyak bocoran dan rumor yang muncul terkait perangkat terbaru Samsung Galaxy S10. Baru baru ini, informasi mengenai harga dan varian smartphone yang disebut membawa pembaruan ini pun bahkan terungkap....
  • HOT !
    Kelebihan lemak pada tubuh sering dikaitkan dengan berbagai risiko penyakit, seperti kardiovaskular atau diabetes. Namun menurut penelitian terbaru, justru ditemukan adanya hubungan antara tingginya kadar lemak dalam tubuh dengan risiko kanker payudara....
  • HOT !
    Masih lanjutan dari Part 1 sebelumnya, tentang warna dan menu makanan yang ternyata mempengaruhi rasa dari makanan menjadi berbeda. Memang terdengar tidak masuk akal tetapi fakta faktanya membenarkan pernyataan tersebut....

BERITA PILIHAN

FAN FICTION
OF THE WEEK
Writer : meditavs
Cast : Kim Jonghyun,A

BERITA POPULER

 
 
 
^
close(x)