SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Kerap di Anggap 'Keren', Ini Bahayanya Self Diagnosis

Senin, 14 Oktober 2019 20:31 by Rie127 | 1294 hits
Kerap di Anggap 'Keren', Ini Bahayanya Self Diagnosis
Image Source: forbes

DREAMERS.ID - Belakangan ini banyak film-film yang mengangkat tentang gangguan mental seperti film Joker dan Midsommar. Karena film-film ini, banyak orang mulai peduli pada persoalan kesehatan mental dan mulai peduli pada orang yang mengidapnya.

Namun ada satu reaksi lain yang timbul, bahwa terdapat beberapa orang yang mengglorifikasi gangguan mental sebagai sesuatu yang keren. Banyak anak muda tanpa bantuan profesional menyatakan di media sosial bahwa mereka mengalami gangguan mental (self diagnosis). Padahal self diagnosis ini berbahaya baik secara fisik maupun psikis.

“Beberapa pasien saya yang melakukan self diagnosis gangguan mental itu berujung menjadi pengguna narkotika dalam upaya mengobati diri. Salah satu pasien saya akhirnya ketergantungan obat penenang karena dia merasa dirinya mengidap stres. Padahal menurut pemeriksaan saya, dia hanya memiliki 'serangan panik' yang bisa ditangani dengan terapi psikologis satu sampai dua bulan.

Akibat keputusannya untuk mengobati dirinya sendiri dengan obat penenang, seperti Xanax, pasien saya harus ditangani secara medis dan psikologis selama 6 sampai 12 bulan. Biayanya menjadi berlipat ganda belum lagi dampak emosionalnya.

Pasien yang lain mendiagnosis dirinya sendiri mengalami depresi. Dia sering melukai dirinya sendiri dan mencoba bunuh diri. Padahal setelah melakukan konsultasi dengan saya, saya menemukan bahwa ia mengidap gangguan kepribadian ambang.

Salah satu konsekuensi dari pasien yang memiliki gangguan ini adalah ketidakstabilan hubungan interpersonal. Jika diagnosis ini didapat lebih awal mungkin putusnya hubungan pasien saya dengan teman dan pacarnya bisa dihindari.

Mendiagnosa masalah gangguan mental tidak mudah karena diperlukan keahlian khusus dan pengetahuan mengenai diagnosis masalah, gangguan, atau sindrom mental. Saya sendiri tidak berani melakukan self diagnosis jika merasa ada masalah kesehatan mental.

Meskipun saya sudah mengemban pendidikan di bidang psikologi klinis selama 10 tahun dan sudah menangani puluhan pasien, saya akan konsultasi ke beberapa rekan psikolog untuk memastikan diagnosis saya dan juga memastikan penanganan selanjutnya”. Tulis Edo S. Jaya, lecture Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Terbatasnya biaya, waktu, dan kendala akses terhadap pelayanan kesehatan, kondisi mental dari pasien yang belum siap untuk berobat, dan juga ketidaktahuan pasien tentang adanya tenaga kesehatan profesional yang bisa mengobati bisa mendorong orang untuk melakukan self-diagnosis.

Selain itu, munculnya persepsi bahwa gangguan mental itu ‘keren’ dan adanya informasi di internet, memperparah tren self-diagnosis ini. Gangguan mental itu tidak menyenangkan dan sangat menghambat potensi.

(Rie127)

Komentar
  • HOT !
    Korea Selatan kini tidak hanya menjadi negara yang semakin maju, tetapi juga ramah muslim. Terdapat satu area populer yang bisa dibilang seperti pusat wisata muslim yang berkunjung ke negeri ginseng, yaitu The Islamic Street....
  • HOT !
    WhatsApp hadir dengan beragam fitur mulai dari pengiriman pesan online hingga panggilan suara dan video. Tetapi ternyata Uni Emirat Arab memblokir akses pengguna untuk menggunakan fitur panggilan suara/video....
  • HOT !
    Beberapa waktu yang lalu, Facebook menggugat NSO Group atas tuduhan menyalahgunakan spyware Pegasus untuk meretas ponsel milik 1.400 orang melalui panggilan telepon WhatsApp, yang diduga mengincar sejumlah jurnalis, pengacara, aktivis hak asasi manusia (HAM), hingga politikus....

BERITA PILIHAN

FAN FICTION
OF THE WEEK
Writer : KaptenJe
Cast : Jill, Sehun, Ibu dan Mama.

BERITA POPULER

 
 
 
^
close(x)